Bosan
Cerpen: 28 Januari 2019
Hari tanpa sadar melaju menuju minggu. Minggu menjelma menjadi bulan, bulan berpuncak pada tahun, dan tahun kembali menjadi hari. Metamorfosa perjalanan hari harus kita teladani. Umpamanya manusia, berjanji pada hari ini akan lebih baik dari hari kemarin, serta berjanji akan lebih baik lagi dari hari ini untuk hari esok. Pemikiran yang tidak menyenangkan bukan? Begitulah realitas pemikiran orang-orang. Bagi ku, itu semua sangat membosankan.
Mendung tak berarti hujan, pagi tadi hujan. Kesimpulannya, hari ini akan turun hujan. Jadi setelah bel jam terakhir usai, aku segera beranjak, mengambil payung dan pergi ke luar sekolah. Tanahnya masih basah dituangi becek. Angin begitu dingin, seperti mengejek baju yang aku pakai, daleman berwarna hitam, seragam sekolah yang gerah, jaket tudung, serta sarung tangan. Semua ini kulakukan karena kejengekelan ku pada hawa dingin. Terutama pada bulan januari. Cuaca tak bisa diprediksi lagi. Membuat orang-orang di sekitar jalan selalu mengenakan jaket dan menyediakan payung. Tak hanya anak sekolah, bahkan para guru, mahasiswa atau orang kantoran melakukan tradisi ini tanpa ada yang memberitahu.
Namun kepekaan alam begitu tinggi. Padahal aku hanya membicarakannya dalam hati, tapi ia seperti terusik dan memberi dentuman pada langit supaya mengajak awan-awannya saling mengumpul. Kurasa, sekarang aku harus berjalan cepat-
“A-aduh! Maaf! Ma-maaf!”
“Kau tidak ap-?”
Cewek aneh. Sebagai lelaki yang tidak memiliki reputasi di mata para gadis sekolah, aku hanya ingin bersikap baik sebagai pertemuan pertama, namun ia hanya pergi berlari tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Kupikir ia ada urusan yang begitu penting, seperti menemui kekasihnya? Untuk apa juga aku pikirkan. Yasudah, bagaimana pun juga aku harus cepat-cepat pulang. Melewati jalanan sepi itulah tujuan ku. Selain menghindari asap kendaraan, daerah sini kadang memberikan ketenangan batin. Orang-orang kota pasti tidak akan percaya jika melihatnya. Habisnya tidak butuh waktu lama, setelah melewati rumah-rumah di pinggir jalan seperti rumah makan, supermarket dan kebutuhan lainnya, menuruni tangga untuk menuju salah satu taman hijau, dari situ akan terlihat sebuah jalan setapak yang bisa dilewati manusia dengan berjalan kaki maupun bersepeda.
Meskipun masih jam setengah 3 sore, melewati jalan ini tergolong cukup aman serta sepi. Jika lewat dari jam 10, aku sarankan kalau bisa jangan melewati daerah sini. Setelah memasuki jalan setapak itu, kalian akan mulai disambut oleh berbagai jenis pohon seperti, pinus, tanjung, bambu kuning, beringin dan mangga. Kalian pasti tidak akan percaya, suasananya sungguh seperti di hutan. Aku senang sekali jika di bawah pohon. Karena pohon merupakan salah satu unsur penting bagi kehidupan, terutama kehidupan manusia. Karena dapat menyerap gas CO2 dan timbal secara lebih lalu menghasilkan oksigen. Bahkan, satu pohon saja dapat dikatakan sebagai pabrik oksigen yang cukup untuk 3 orang. Rimbun dengan kerapatan daun yang bisa menutupi sinar matahari, membuat suasana sore seakan menjelang malam.
Setelah disambut oleh pepohonan, datanglah suara gemercik air. atau lebih tepatnya sungai. Jadi, sekiranya sudah jalan selama 5 menit, berjumpa lah dengan salah satu jembatan tertua di kota kecil ini. Dibangun pada tahun 1920an, dengan perawatan dilakukan selama tiga kali dalam sebulan. Tercatat tidak pernah rusak berat. Jembatan ini merupakan sebuah penghargaan dan kebanggaan ku, karena mungkin hanya aku ketika pulang yang melewati jalan sepi penuh kecurigaan. Hampir bisa dikatakan surga. Terkadang jika tak ada pekerjaan rumah, aku suka sekali melihat matahari terbenam melalui jembatan itu, meminum kopi dari supermarket dan menyatu bersama alam. Tapi hari ini, tampaknya aku kedatangan seorang tamu. Tidak ku sangka, takdir akan mempertemukan kita lagi. Jelas aku masih mengingatnya, namun entah apa dia akan mengingat ku terlebih dari pertemuan kita yang begitu singkat.
Ia terlihat seperti sedang menggumam sesuatu, aku tentu tidak bisa mendengar jelas karena jarak, namun perlahan aku mulai mengerti apa yang ia ucapkan. Kurang lebih, sama seperti orang-orang terdahulu. Dan sama seperti biasanya, apa aku sapa dia ya? Mesikpun kita satu sekolah, aku bahkan tidak mengenalnya. Baiklah, gaya seperti biasa saja.
“A-aku tidak melakukannya. Aku tidak melakukannya.... aku tidak melakukannya...”
“Melakukan apa?”
“Whoa!!...”
Untung saja, ia dengan cepat memegang pegangannya. Kalau tidak, terjatuh dan habis sudah.
“Se-sedang apa kau di sini?! Apa kau mengikuti ku? Kau salah satu mata-mata nya Rifka, kan?!”
“Rifka? Apa maksud mu, Rifka Jasmine?”
“ya...ya!! Itu dia!! Kau mengenalnya bukan?!”
“Tenang lah, aku hanya satu kelas dengannya.”
Tidak seperti kebanyakan orang, ia berdiri di bagian luar jembatan. Artinya ia berada di lain sisi jembatan Menghadapkan badannya pada sungai deras di bawah, bukankah itu sedikit berbahaya? Aku ingin menannyakan soal itu, tapi sepertinya masih mustahil.
“Jadi kau adalah salah satu kelompoknya kan?!”
“Kelompoknya? Jika perkelompokan dari beberapa individu yang terdiri dari anak remaja di mana mereka suka membuang-buang waktu dalam aktivitas dan berbicara mereka, maaf saja. Tapi aku bukan salah satu anggota kelompok budak seperti itu.”
“A-apa maksud mu?! Jangan membuat aku berpikir yang tidak-tidak! Buktikan apa kau bukan salah satu dari kelompok mereka!!”
Memang benar, saat ini aku tidak memiliki alibi sama sekali. Bagaimana cara membuktikan kalau pernyataan ku tidak dianggap salah olehnya? Aku ingat, ada satu cara. Kalau begitu, aku mengambil hp dan tinggal memperlihatkannya saja.
“Apa yang mau kau lakukan?! Kenapa malah mengambil hp mu?!!”
“Lihat ini, apa aku ada di antara foto-foto ini?”
Aku memberikan kumpulan gambar di sosial media milik Rifka dan menunjukkan foto-foto kelompok bermainnya. Semoga saja, ia percaya dengan semua ini.
“Bagaimana?”
Tak perlu waktu lama, ia segera mengembalikan hp ku dengan wajah sedikit puas setengah malu. Ya, menurut ku sih tak apa, toh aku sering diperlakukan seperti ini. Jadi tak perlu malu-malu seperti itu.
“Kalau begitu, kau mempercayai ku?”
“Be-begitu lah.”
“Terima kasih.”
Nada bicaranya berubah menjadi sedikit halus. Yasudah selagi tak ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, aku akan melihat matahari terbenam. Setelah aku menopang tubuh ku pada pegangan jembatan, raut wajah ku sedikit berubah. Teringat akan sesuatu yang penting, aku melupakan kopi. Jika balik sekarang, melelahkan. Biarkanlah, satu hari tanpa kopi tidak pernah memberi kesan manis juga. Hanya saja, karena bau kondensasi begitu kental, ditambah angin dari belakang yang membuat pohon bersorak-sorak, aku pun menutup mata dan menikmati itu. Dengan tenang, membuat segalanya menjadi damai.
“Kenapa kau masih di sini?”
Tiba-tiba ada satu suara yang aku lupakan. Ku buka mata sebelah kiri dan melihatnya yang masih berdiri di sisi lain jembatan. Melihatnya saja sudah bikin ngilu.
“Aku yang seharusnya bertanya kepada mu. Kenapa kau masih ada di sini? Ini adalah tempat persembunyian ku.”
“Hah? Dasar aneh. Tempat umum seperti ini kau bilang mau dijadikan sebagai tempat persembunyian? Bodoh.”
Kritikan yang pedas. Aku berharap suatu saat ia bisa menjadi seorang kritikus untuk mengkritik kehidupan orang.
“Coba kita lihat. Mana yang lebih bodoh. Antara kau dan aku.”
“Ya jelas! Kau itu lebih bodoh. Karena kau itu laki-laki!”
Heh? Sungguh? Apakah wanita akan merasa menang jika mereka menggunakan pernyataan bahwa setiap lelaki itu bodoh? Hebat. Aku harus banyak belajar darinya.
“Jika aku bodoh, maka kau juga bodoh.”
“Pernyataan apa itu? Haha, kau ternyata benar-benar bodoh, ya? Kenapa bisa masuk di SMA 22?”
“Tidak. Pernyataan ku tidaklah sepenuhnya salah. Mari ambil contoh seperti ini, semua manusia itu bodoh, dinamai mayor premis. Lelaki dan perempuan manusia juga, dinamai minor premis, lelaki dan perempuan itu bodoh, dinamai kesimpulan. Itulah yang disebut silogisme. Mengerti?”
“Aneh! Dasar aneh! Kau cuman mengada-ada. Cepat pergi dari sini.”
“Untuk apa?”
“Sudah! Cepat-“
“Apa karena kau ingin bunuh diri?”
Daripada ambil pusing, lebih baik ku katakan saja langsung. Lagipula, di sini tidak akan dilewati orang-orang sebelum jam 6 sore. Terhitung, waktu bermanfaat masih ada sekitar 3 jam lagi. Soal dia, wajahnya terkejut. Berubah menjadi pucat. Rambut panjang yang sayang di kuncir itu rupanya cocok untuk wajah kecil, bermata asia, serta bibir kecil imutnya. Tingginya sudah dikonfirmasi saat pertama kali kita bertemu tidaklah terlalu tinggi dari ku dan tidak terlalu pendek juga untuk seukuran anak perempuan berumur 16 tahun. Tapi pertumbuhan tubuhnya, termasuk yang aku suka. Baru saja aku melihat wajah manisnya, ia mulai menundukkan seperti barang curiannya telah ketahuan.
“Darimana kau tahu soal itu?”
Lagi-lagi, pertanyaan yang orang biasakan tanya kepada ku. Terhitung sudah berapa kali aku melakukan hal seperti ini, mungkin akan berakhir sama saja.
“Banyak keping-kepingan yang aku susun untuk cukup menarik kesimpulan, berdasarkan bukti yang ada. Yang di mana telah aku susun sebagai berikut, nama mu Ajeng fitria, kelas XI ips 2, makanan istirahat terakhir adalah nasi goreng, ekskul? Sepertinya anggota band, lalu kau punya seekor kucing, kau duduk di sekitar barisan ke 4 dan 5, ibu mu sudah meninggal, tidak mempunyai pacar, memiliki satu teman perempuan dari smp dan.... korban perundungan. Yang di mana aku baru mendapatkan info tersebut dari mu. Kau dirundung oleh Rifka beserta teman-temannya, bukan?”
Lelahnya, apa yang aku lakukan ini benar? Bahkan aku mengatakan hal seperti itu tanpa melihat ke arahnya. Terlebih lagi, soal ibunya. Atau dia yang menjadi korban keegoisan dari sifat anak remaja. Lihat? Dia sekarang malah menundukkan kepalanya dan-oh rupanya ia ingin berbicara.
“Bagaimana kau bisa tahu? Katanya kau bukan mata-mata Rifka. Ba... Bagaimana... Kau bisa ta-tahu?!!”
Sekarang dia terlihat kesal, memang salah kalau aku sudah terlalu blak-blakkan. Terkadang aku memang tidak mengerti apa yang orang lain rasakan.
“Sederhana saja. Nama mu kan tertulis di baju, aku pernah melihat mu sedang makan sendiri di kelas XI ips 2, lalu di pundak mu ada sisa mie goreng yang masih berbentuk bagus, sini aku bersihkan. Lalu soal ekskul mu, aku melihat sisa-sisa tanah liat di sepatu mu. Karena dalam perjalanan menuju ke sini aku tidak menemukan tanda-tanda tanah basah, maka kesimpulannya hanya satu. Saat bel berbunyi, kau lari dengan semangat menuju ruang band. Lalu ketika kau berjalan ke ruang band, kau akan melewati jalan satu-satunya yang masih belum diberi ubin oleh kepala sekolah, jadi tanah liat akan menempel pada sepatu mu. Saat sampai di ruang band, kau melihat ternyata tidak ada siapa-siapa. Murung dan sedih karena ruang band adalah tempat mu bercurhat, kau pulang dengan sedih terus berlari. Di jalan pun kau menabrak ku.”
Matanya seakan tidak percaya. Walaupun aku sudah sering melihat raut wajah yang seperti itu. Lalu dengan cepat, raut mukanya berubah menjadi suatu kecurigaan.
“Apa kau penguntit?!”
“Jika aku penguntit, aku tidak akan berani berada di samping mu.”
“Be-benar juga. Terus bagaimana kau bisa tahu aku punya kucing?”
“Oh ya, itu terlihat di baju bagian depan mu, sisa-sisa bulu kucing. Sebelum berangkat kau memeluknya dengan erat. Aku yakin kau sangat mencintainya. Kemudian, karena kau duduk di bagian kursi ke 4 atau 5 dan tidak ada pertukaran tempat duduk yang di mana di kelas ku juga tidak terjadi, maka kau membeli kacamata. Tidak mempunya pacar karena rambut mu masih dikuncir-“
“Tunggu! Apa hubunganya dengan itu?”
“Menurut pendapat pribadi ku, kau akan bertambah cantik jika melepas kunciran itu.”
“Hee-eeh...”
Aneh, kenapa sekarang dia malah tersipu malu? Apa aku mengatakan hal yang memalukan? Sial. Lagi-lagi aku mendapatkan hal yang tidak ku ketahui.
“Lalu soal teman smp mu. Aku melihat sebuah karakter dalam kartun waktu zaman ku smp. Dua karakter tersebut ada yang berbentuk beruang dan berwarna putih serta hitam. Yang berwarna hitam memegang kotak, lalu si putih memegang kunci. Kemudian kau mempunyai si hitam. Maka sudah pasti teman mu mempunayi si putih. Karena mainan tersebut tidak dijual secara terpisah. Malah akan jadi bahan ledekkan jika kau menggunakan keduanya. Karena kau akan dicap tidak memiliki teman. Dan coba kau lihat, aku punya keduanya. Lucu bukan?”
“Mmmpphh...Fwahahaha!!... Apa-apaan itu! Hahahaa!! Kau lucu sekali! Berani sekali kau memasang keduanya seperti itu. Hahahaah!..”
“Yaa begitulah.”
Akhirnya ia tertawa juga. Syukurlah, jarang sekali aku dapat membuat orang lain tertawa. Eh tapi tunggu, ia tertawa karena diri ku, atau karena perkataan ku?
“Kau bisa tertawa juga rupanya.”
“Apa sih!”
“Ya itu sih bagus. Daripada mencoba bunuh diri menggunakan pisau. Itu di tangan mu, kau tidak bisa menyembunyikannya. Lalu soal Rifka yang merundung mu, aku tidak tahu bagaimana cara ia melakukannya. Tapi aku rasa dia memang gadis yang cukup sadis.”
“Ketahuan lagi, ya?”
Ketahuan yang sekarang agak sedikit berbeda. Ia seakan merasa lebih merelakannya. Entah karena perubahan langit yang mulai semakin gelap dan dingin, atau karena ia mulai sedikit terbuka?
“Boleh kah aku bercerita?”
Whoa. Baru kali ini ada yang bercerita dengan ku, bukannya mengobrol. Tapi kali ini benar-benar bercerita. Seperti curhat. Itu sih yang aku dengarkan dari obrolan di kelas. Lagipula aku juga penasaran bagaimana ia bisa sampai nekat mau melakukan hal ini. Dan juga, kenapa kau tidak ke sisi sini dulu?
“Memang benar aku dirundung oleh Rifka beserta teman-temannya. Mereka, mereka sangat kejam! Padahal dari awal aku hanya ingin berteman dengannya. Karena seluruh angkatan juga tahu kalau dia sangatlah terkenal. Saat aku mencoba berteman dengannya, mula-mula ia meminta tolong dibelikan makanan di kantin. Aku turuti. Namun makin lama, aku semakin direndahkan. Seperti membersihkan sisa-sisa makanan di lantai saat ia sudah selesai, menjadi bahan hinaan atau bahan lelucon, terkadang makanan ku juga diambil semuanya oleh Rifka untuk dibagikan kepada teman-temannya. Semua ini ku lakukan karena kata dia ‘ini adalah syarat supaya bisa bermain denganku’ begitu.”
“Ya, sebenarnya aku juga sering melihat mu diperlakukan seperti itu di kelas.”
“Hingga pada akhirnya, mereka mulai bermain fisik kepada ku. Seperti menjambak rambut, memelorotkan celana, mengambil kacamata ku. Dan pernah dikunci sampai jam pulang! Aku sudah tidak kuat lagi! Teman smp ku yang pernah mencoba membantu ku, sekarang ia sedang berada di rumah sakit! Aku sungguh kesal! Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun! A-aku ini, sungguh lemah! Aku benci keadaan seperti ini! Dunia seakan tidak memihak kepada ku! Makanya aku ingin mati saja!”
Beginilah jadinya, jika mental manusia yang begitu lemah diberi cobaan terlalu berat di mana ia harus membutuhkan pertolongan orang lain. Mungkin jika dalam kehidupan orang lain, seseorang yang berbicara dengannya akan bersedia membantu melepaskan dirinya dari kezaliman. Tapi sayangnya, ia datang ke orang yang salah.
“Katakan kepada ku!! Apa yang harus ku perbuat?!! Aku tidak mau hidup seperti ini lagi!!... kumohon!!.. bantu aku!!...”
Suara tangisan itu akhirnya keluar. Tapi serius, bisakah ia menangis di dalam jembatan saja? Jangan di bagian luarnya. Malah memberikan kesan cemas daripada tersentuh. Tapi jika ia meminta pertolongan begitu tulus, mana bisa aku lewatkan bukan?
“Tentu saja.”
“Benarkah?!!.. kau a-kaan.. me-membantuku?!"
“Ya. Aku tak tahan dengan sifat manusia yang seperti Rifka juga. Suka berkuasa, melecehkan, merendahkan, hingga bisa menghapus keberadaan orang lain. Seharusnya ia sadar diri saat melakukan setiap aksinya. Dan kau, seorang korban dari kekejaman tirani itu. Meminta pertolongan kepada ku. Seorang lelaki yang tidak kau kenal.”
“E-eh apa maksud mu? Kenapa wajah mu begitu datar? Apa kau ini seorang plegmatis?”
Plegmatis? Apakah dia melihat ku seperti itu? Atau jangan-jangan bahkan semua orang melihat diri ku seperti apa yang ia lihat pada ku? Tapi menurut ku, aku ini bukanlah seorang plegmatis atau bahkan sosiopati. Aku hanya anak lelaki, seorang remaja yang kebingungan. Dan kesalahannya di mulai saat ia berbicara kepada ku.
“Seorang lelaki yang dalam sekali lihat, bisa mengetahui seluk-beluk kehidupan mu, makananmu, peliharaanmu, temanmu, statusmu, bahkan ibumu.”
“Tu-tunggu, aku baru ingat. Bagaimana kau tahu soal Ibuku? Padahal dalam pencarian polisi saja, masih belum bisa dipastikan bahwa ia menghilang atau sudah meninggal! Ma-maksud mu apa? Bukankah kau ingin menolongku?”
“Tentu saja. Aku tidak suka perundungan. Aku tidak suka Rifka. Tapi, aku juga tidak suka padamu. Sifatmu terlalu naif. Terlalu menggambarkan dari keadaan realita pergaulan zaman sekarang. Kau ingin bercahaya, mendekat dengan matahari. Namun pada akhirnya kau termakan oleh panas api tersebut. Seorang diktator pada perang dunia ke-II pernah berkata, jika kau ingin bersinar seperti matahari, maka kau harus membakar sepertinya dulu. Kurasa, Rifka cocok untuk perumpaan tersebut. Dan kau, ngengat bodoh yang menghampiri cahaya itu termakan hingga jiwa dan mentalmu hancur. Kemudian keberuntunganmu habis saat bertemu dengan ku. Ya, silahkan saja menilai sendiri mana yang lebih berbahaya antara Rifka dan aku. Yang jelas, Rifka melihat mu sebagai hewan peliharaan atau serangga. Tapi menurut ku,”
“A-aa-aa...Aa--..aa--...aa..”
“Kau itu membosankan.”
Saat sedang tergagap-gagap seperti itu, entah kenapa tangannya melepas bagian pegangan jembatan. Melihat kesempatan itu, aku pun mendorongnya.
“Oh ya, soal Ibumu. Aku yang mendorongnya. Lagipula, Ibumu juga membosankan, pada awalnya ia menghujat ku soal, ‘anak kecil tahu apa tentang orang dewasa’setelah itu, aku membaca dirinya, ia terkejut, bercerita kepadaku, meminta tolong kepadaku, namun aku mendorongnya. Lalu aku sendiri terkejut saat ia terjatuh, Ibumu menyebut namamu. Yasudah, banyak juga yang seperti itu. Di saat-saat manusia bertemu dengan ajal, mereka setidaknya akan mengatakan sesuatu yang mereka sayangi, idamkan, benci, cita-cita, keinginan, kepuasan, nafsu dan bahkan ada yang sempat tertawa.”
Ha-ah, melelahkan. Sudah berapa banyak orang yang jatuh, ya? Lagipula, kenapa mereka harus bunuh diri di sini sih? Aku ini benar-benar tidak suka jika tempat persembunyian ku terekspos. Yasudah, aku juga turut berterima kasih kepada Ajeng. Karena waktu ia terjatuh begitu pas saat matahari sedang terbenam. Sial, aku jadi menangis. Ha-ah, kenapa aku menjadi emosional seperti ini? Baiklah, aku akan berharap supaya ada yang mau bunuh diri lagi. Kenapa? Karena kalau aku berharap semoga tidak ada yang bunuh diri, malah akan ada yang bunuh diri. Tapi setelah dilihat dan dihitung, selama aku berdoa supaya ada yang mau bunuh diri, malah makin bertambah. Manusia beserta takdir duna selalu membuat ku pusing. Terutama manusia sendiri yang tidak paham dengan konsep sesamanya. Padahal kita diajarkan untuk memanusiakan manusia. Namun di luar sana masih banyak saja orang yang memanusiakan Tuhan atau menuhankan manusia. Apa aku jadi Tuhan saja ya? Sial, dunia sangat membosankan.
bagus, tp sy jg bosan bacanya. trims🙏
BalasHapus