Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2020
Gambar
      Wardrobe Philosophy: Japanese Fashion Gilbran          Wardrobe philosophy merupakan topik yang menarik. Karena pada era modern saat ini kita bisa melihat seseorang memiliki jenis style pakaian yang bermacam-macam. Hal itu dapat juga menentukan status sosial seseorang di mata masyarakat. Sebenarnya Sebelum pembahasan lebih jauh, barangkali banyak dari kita yang belum mengerti apa itu wardrobe philosophy ? Kenapa bisa ada seseorang yang mencetuskan kalimat tersebut? Apa dasarnya? Dan terakhir, mengapa?     Pembahasan mengenai wardrobe philosophy di Indonesia rupanya sangat jarang. Sepengamatan dan sepengalaman saya, masyarakat Indonesia belum memiliki tingkat kesadaran dalam berpakaian. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Ketika pangan dan papan sudah terpenuhi, kaum ekonomi menengah ke atas cenderung mengeluarkan duitnya untuk kepuasan internal, dalam hal ini pakaian. Maka bisa dilihat para pemerhati fashion ter...

Tik tok dan Eksistensialisme

 02 September 2020 Belakangan ini TikTok menjadi salah satu aplikasi yang ramai digunakan masyarakat. Tanpa mengenal umur, jenis pekerjaan atau strata sosial seseorang, dengan sedemikian rupa diciptakan untuk dapat digunakan dan dikonsumsi oleh semua. Lintas dunia. Inilah salah satu keberhasilan globalisasi. Tentu teman-teman sudah paham globalisasi. Tapi tulisan kali ini bukan bagaimana cara memfilter tentang yang baik atau buruk di TikTok, melainkan membahas sisi lain dari pengguna hingga penikmat TikTok. Apakah layak jika dalam sehari kita hanya duduk atau terbaring di kasur dengan mata menatap ke layar gawai sambil jempol mengusap-usap ke atas. Atau ketika bertemu dengan teman malah saling diam melihat orang lain yang jelas-jelas tidak kalian kenal. Jika balik ke poin pertama, jelas membuang-buang waktu adalah hasilnya dan pada poin kedua siap-siap dibilang tidak asik di tongkrongan. Kenapa bisa begitu ya? Coba kita pikirkan saksama, jika TikTok boleh dibilang sebuah khayalan y...

Senja Kelabu

 Cerpen: 29 Oktober 2019      Air mata itu perlahan mengalir jatuh ke perut. Bagai elang malam yang merindui serta mendambakan bulan, dan jatuh ke dalam cawan kisatan berisi air mata. Dengan intensi, segala kenangan yang mencabarkan itu melipur ke dalam cawan korosif. Kenangan itu serupa keikhlasan dari unsur embun, menghilang tanpa dihilangkan. Ada namun tak berada. Tak membekas karena sudah bekas. Karena kenangan hanyalah untaian kisah yang mulai meluntur disertai masuknya beberapa kognisi kedalam pikiran halimunan kita.       Bahkan, aku juga takut. Kepada suatu perasaan yang muncul dengan sergap. Kemudian, menghilang dengan sayu. Pada setiap gerakan, setiap kebiasaan maupun setiap perkataan yang sering aku lakukan, perasaan rangup ini seketika pula dapat ditarik kembali, tapi hanya untuk sesaat. Karena perasaan itu seperti menunjukkan suatu keadaan fisik maupun non fisik pada peristiwa atau pengalaman melalui persepsi, intuisi, kondisi, materialisa...

Bosan

 Cerpen: 28 Januari 2019 Hari tanpa sadar melaju menuju minggu. Minggu menjelma menjadi bulan, bulan berpuncak pada tahun, dan tahun kembali menjadi hari. Metamorfosa perjalanan hari harus kita teladani. Umpamanya manusia, berjanji pada hari ini akan lebih baik dari hari kemarin, serta berjanji akan lebih baik lagi dari hari ini untuk hari esok. Pemikiran yang tidak menyenangkan bukan? Begitulah realitas pemikiran orang-orang. Bagi ku, itu semua sangat membosankan. Mendung tak berarti hujan, pagi tadi hujan. Kesimpulannya, hari ini akan turun hujan. Jadi setelah bel jam terakhir usai, aku segera beranjak, mengambil payung dan pergi ke luar sekolah. Tanahnya masih basah dituangi becek. Angin begitu dingin, seperti mengejek baju yang aku pakai, daleman berwarna hitam, seragam sekolah yang gerah, jaket tudung, serta sarung tangan. Semua ini kulakukan karena kejengekelan ku pada hawa dingin. Terutama pada bulan januari. Cuaca tak bisa diprediksi lagi. Membuat orang-orang di sekitar...