Senja Kelabu
Cerpen: 29 Oktober 2019
Air mata itu perlahan mengalir jatuh ke perut. Bagai elang malam yang merindui serta mendambakan bulan, dan jatuh ke dalam cawan kisatan berisi air mata. Dengan intensi, segala kenangan yang mencabarkan itu melipur ke dalam cawan korosif. Kenangan itu serupa keikhlasan dari unsur embun, menghilang tanpa dihilangkan. Ada namun tak berada. Tak membekas karena sudah bekas. Karena kenangan hanyalah untaian kisah yang mulai meluntur disertai masuknya beberapa kognisi kedalam pikiran halimunan kita.
Bahkan, aku juga takut. Kepada suatu perasaan yang muncul dengan sergap. Kemudian, menghilang dengan sayu. Pada setiap gerakan, setiap kebiasaan maupun setiap perkataan yang sering aku lakukan, perasaan rangup ini seketika pula dapat ditarik kembali, tapi hanya untuk sesaat. Karena perasaan itu seperti menunjukkan suatu keadaan fisik maupun non fisik pada peristiwa atau pengalaman melalui persepsi, intuisi, kondisi, materialisasi, visualisasi dan oksidasi. Karena, perasaan itu juga dapat memecah tanpa jejak, masuk ke dalam senggama pikiran nan jauh dan tak dapat dirasakan kembali.
“Perlahan, resah mengawai batin ini.”
Kemudian, kenangan itu kian melebur bersama suatu perasaan yang menjelma menjadi asa dan menyerbak untuk meratapi setiap penguraian atau pelepasan atau penggabungan suatu perasaan, oleh kenangan, dan menimbulkan karat yang merupakan satu bentuk dari terjadinya pelapukan afeksi. Sisa-sisa pelapukan itu tak akan dapat berubah menjadi abiogenesis. Karena tidak adanya intervensi atau dukungan dari suatu perasaan yang membuat komponen kenangan itu menjadi terdistorsi. Padahal, aku yakin serta bersungguh-sungguh kepada jutaan sel yang tersangkut di otak ku ini yang menusuk setiap rongga di dalam tubuh, bahwa perasaan yang bergejolak abisal pada saat itu, membuat suatu peranan besar yang kini tengah dirasakan oleh seluruh kumpulan materi bersenyawa, namun perasaan ini terbaur bersama kenangan yang dilebur lagi bagaimanapun juga, bersama asa.
Karena hal itu, sisa-sisa kenangan yang dapat ku rangkul hanyalah sebuah langit beraroma kondensasi serta evaporasi dan bersuasana katarsis. Aku bukanlah seorang retrofili atau sarkofili, apalagi disosiasi. Aku tidak tertarik dengan masalah pemecahan molekul dalam proses kimia yang menghasilkan satu atau lebih molekul lainnya. Namun, karena kenangan ini begitu surealis halusinatoris, menjadikan pecahan kenangan itu ke dalam proses habituasi yang memberikan satu atau lebih kenangan lainnya, maka atas pencarian berupa hilangnya kenangan ke dalam proses pencampuran afeksi deviasi semu, aku melamun dalam naungan laut si jingga, dengan kelabu yang meringkuk di sela-sela kehampaan yang jingga luaskan dengan keakraban suasana menjelang malam. Senja, sama dengan langit kelabu itu.
Senja adalah seperti reifikasinya Tuhan. Maka, dijadikanlah rahmat oleh Tuhan yang diberi nama senja itu sebagai alas waktu untuk merajut kesucian suaka malam. Memberi harum aroma terapi hemokromatosis. Ia taburkan dan tuangi raksi psikedelik yang membuat senja dapat dinikmati bagi perjamuan para sukma deprivasi. Dan sekarang, di pinggiran jembatan ibu kota. Aku yang dicekik oleh kenangan gamang ini menatap kosong kepada sang bumantara setelah air mata terakhir dibersihkan dengan dramatis oleh pawana. Mencoba keras untuk menggali di dalam ruang pikiranku. Namun, sambutan hanya datang pada kenyataan terdahulu yang sahih.
Kepala tiga diberikan oleh Tuhan kepadaku. Pekerjaan yang aku ikat tidak terlalu mengikat ketat untuk waktu yang mencoba mengikat ku dengan ikatan ketat lainnya. kemudian, betapa kerasnya aku mendobrak pintu pikiran ini, selalu saja seperti ada kunci yang menghilang. Kunci yang butuh jawaban atau jawaban yang membutuhkan kunci, permainan resonansi dari perkembangan alur syaraf, mencoba untuk menstabilitaskan denyutan-denyutan afinitas elektron yang mendatangkan adenosina.
“sialan, ternyata lumayan sakit juga.”
Untung saja, aku membawa obat yang digunakan sebagai sumber energi metabolik tubuh. Karena itu aku ingat bahwa dokter berfirman, jikalau sedang dimakan ensefalitis, jangan coba berpikir kritis. Seperti yang aku lakukan tadi dalam perjalanan menuju jembatan tua yang menghantarkan guncangan kepada kenangan serta perasaanku. Dan, senja ini membawa kesan ekstrimis kepadaku. Rasa yang menghantui, jiwa sesat, akal liar, kegelisahaan batin, amarah luka, tangisan duka, tebaran suka, semuanya senja berikan dalam bentuk permainan misteri. Senja juga menaburkan benih pergeseran yang bersifat mengikuti atau menjabarkan seperti paham yang berdasarkan dogma atau dogmatisme. Maka, sebut saja sebagai kenangan friksi
Kembali lagi, salah satu pinggiran teka-teki yang perlahan terpasang, hiruk piruk karena kendaraan membuat seakan senja begitu terasa cepat. Tapi disini, di baluarti renunganku. Sifat materi itu menentang dan menghambat setiap perbuhan momentum pada gerak benda. Kini, hukum inersia menelanku.
Meskipun dalam lamunan ilusi ini terasa begitu lambat, tiba-tiba dengan bunyi yang nyaring, sebuah bus berhenti mendadak ke arahku. Kemudian, mobil kecil yang ada di depannya tertabrak halus dan menabrak pinggir jembatan. Membuat pegangannya menjadi bergetar hebat. Hukum inersia pecah. Bumantara disambut hujan. Langit psikedelik hilang. Ensifilitas menusuk-nusuk otak. Aku menjadi resah, gelisah, gugup, kebingungan, risau, cemas dan was-was. Senja kelabu semakin menjadi. Seperti ada suara lonceng yang memukul kepalaku.
“Cepat! Hubungi rumah sakit!”
“Ya, ampun!”
“Astaga!”
“Tolong! Tolong! Tolong! Siapa saja!”
Kenapa suasana mencekam ini, hiruk piruk tak sistematis, suara jerit pertolongan yang begitu hangat. Semuanya seperti diaduk menjadi satu. Sebuah de javu yang mencekik perasaan dan kenangan. Kenapa? Kenapa ibu itu berdarah banyak? Kenapa kedua anak yang cantik dan tampan itu terus-menerus berdarah? Dan, kenapa sang ayah masih sadar? Apakah yang lain masih sadar?
“Keluarkan semuanya!”
I-ini terasa begitu menjanjikan.
“Permisi pak? Apa bapak bisa bantu menghubungi pihak rumah sakit? Sepertinya, bapak baru dari rumah sakit, bukan? Tolong, pak. Ini benar-benar darurat! Pak!” A-aku? Aku dari rumah sakit?
“Aaaaaarrghh!!”
“Pak?! Apa bapak sehat?! Pak?!”
Kenapa, hal ini baru terlintas sekarang? Kenapa aku menggunakan baju rumah sakit? Kenapa, kenapa kepalaku diperban? Kemudian, lonceng itu berbunyi lagi. Aku, kembali dalam inersia. Semua di sekelilingku menjadi tak berguna. Hujan membuat semuanya menjadi semakin redup. Dingin perlahan menjamah tubuh yang hanya dilapisi baju rumah sakit dan terlepas dari tubuhku.
“Pak, bajunya lepas pak!”
Kemudian, aku berpegangan kepada pinggiran jembatan dan kenangan itu muncul kembali. Sekelibat peristiwa berganti dengan cepat di depan mataku. Anak-anak sedang menangis. Aku bertengkar hebat dengannya, istriku. Di jembatan ini. Pada senja kelabu.
“Seharusnya, aku saja yang mati, bukan?”
“Maksud bapak? Pak?! Tolong jangan bercanda! Bapak ini siapa?! Kenapa bisa ada disini- hei! Pak polisi, bantu saya, pak!”
Sedikit senyuman sebagai pemanis di akhir kata yang penuh keyakinan. Aku pun menaiki pinggiran jembatan itu.
“Pak! Apa yang bapak lakukan?!”
“Hei! Hei! Cepat kesini! Bantu dia!”
“Pak, turun pak, licin lho. Ini lagi hujan.”
“Pak, bapak dengar saya?”
“Eh, ini kasih bajunya.”
“Pak, bapak dari rumah sakit mana?”
Banyak sekali manusia yang berkerumunan disini. Menambahkan potongan-potongan kenangan untukku coba dan berharap disatukan kembali. Tapi, tapi! Bagaimanapun juga! Meskipun juga! Suasana sudah memberi kesan. Langit memberi kiasan. Suara memberi jeritan. Matahari menatap enggan. Hujan menjamah badan. Dan aku akan menyumbang sebuah tarian, untuk para pedestrian.
Dan, ketahuilah. Bahwa, yang belum merasakan kehidupan tidak boleh mati duluan, kecuali orang bijak yang mati dalam kehidupan. Karena itu, berbagai kontradiksi melaju pesat dalam inersia buatan ini. Kontradiksi interminus akan menyangkal bagian-bagian kenanganku yang tak ku coba ingat. Walaupun, aku tak perlu mengingat semuanya. Namun semuanya sudah begitu jelas. Kini aku bagai pahat dengan pemukul. Tak bisa menentukan apa-pun lagi. Lihat saja, tatapanku sudah kosong menuju sungai kejam nan deras. Kosong membelalak seperti dipanggang tiada hangus, ditendam tiada basah.
Di bawah senja kelabu. Kenangan yang melebur. Perasaan yang membaur. Kuharap tak ada penyesalan. Tak ada tempat untuk kembali. Di bawah senja kelabu. Terima kasih kepada fatamorgana antitetis, materi adhesif dan negasi apofasis. Dan sekarang, aku berdiri menghadap takdir antanaklasis.
“Dengan membawa sekuntum tubuh ini. Kekekalan tubuh indah ini sedang berbunga-bunga! Karena, kehidupan begitu ironi! Butuh kesedihan untuk mengetahui kebahagiaan! Suara, untuk mengapresiasi keheningan! Dan kehadiran, untuk menghargai keberadaan!”
“Sepertinya, dia sakit jiwa.”
“Kasihan ya.”
“Apa?! Aku gila?! Hei ibu-ibu! Hei bapak-bapak! Di dunia yang gila ini, hanya orang gila lah yang waras! Bwahahahaah!”
Karena teriakanku yang begitu cetar, membuat segelintir orang menahan-nahan kakiku. Memang ini amat sulit untuk dilakukan, tapi akan mudah untuk dilupakan. Karena,
“Di bawah senja kelabu ini! Berdirilah sebuah ironi! Andai aku burung, langit akan menjadi sayapnya! Kini semua telah jelas, meskipun aku tidak jelas jika berpikiran hal yang jelas kemudian merubahnya menjadi tidak jelas karena kejelasanku teramat kurang jelas! Hahahahaaha! Aku ingin sekali menari! Lihatlah! Aku menari di atas pinggiran jembatan tua yang mengambil keindahan dalam kehidupanku! Ini semua salah siapa?! Siapa yang mau salah?! Aku! Aku! Aku akan salah! Baiklah! Kalau kamu salah, aku akan menyebutkan majas perbandingan sebagai tarian terakhir!”
“Pak! Hentikan, pak!”
“Saya polisi! Cepat turun dari situ, atau kamu akan saya bawa!”
“Tidak! Tidak! Wayang wau putus teraju, bagai wau putus teraju! Ingat! Zikir saja takkan jatuhkan rejeki dari langit! Usul menunjukkan asal! Lihatlah! Kemegahan dari senja kelabu! Memiliki ritme yang membuat waktu cemburu! Pemegang hukum inersia! O, andai aku pangeran dari persia, kau pasti putri dari indonesia! Senja kelabu! Aku ingin kau bersalah! Bersaksilah! Ini ada polisi disini! Cepat tangkap si senja kelabu! Oy, matahari! Jangan meringkuk saja! Cepat kesini! Atau akanku majas kau! Hahahaah! Dimana keluarga ku?! Bertahun-tahunku habiskan waktu untuk menghapalkan isi kamus bahasa indonesia! Sekarang, rasakan penderitaanku! Dasar senja kelabu! Majas! Alegori, alusio, simile, metafora, antropomorfisme, sinestesia, antonomasia, aptronim, metonimia, hipokrisme, litotes, hyperbola, totum pro parte, inuendo, ironi, sarkasme, sinisme, satire, apofasis, pleonasme, repetisia, pararima, aliterasi,”
“Pak jangan melompat!!!”
“Gawat! Bagaimana ini? Ia sudah melompat?!”
“Kita dengarkan saja majasnya berakhir.”
“Eufimisme, disfemisme, fabel? Parabel? Whoops! Sekarang aku sudah melayang! Perifrase! Eponim! Simbolik! Paradoks! Oksimoron! Antitesis! Koreksio! Elipsis! Asidenton! Interupsi! Eksalamasio! Enumariso! Preterio! Tautologi! Sigmatisme! Disfemisme! Antanaklasis! Klimaks! Antiklimaks! Inversi! Alonim! Kolokasi! Silepsis! Zeugma! Dan! Terima kasih kontradiksi interminus! Aku akan menghajar mu! Senja kelab—“
Ah, inilah esensi dari tercekik di dalam air. Sekarang, aku sudah menyelesaikan semuanya. Aku akan bertemu kalian. Maafkan aku yang baru sadar. Aku menerima kenyataan yang pahit begitu memahami arti dari amnesia. Lebih menyakitkan dilupakan, daripada tertinggal mati. Kini, setelah aku mengerti isi dari hukum kosmologis, aku akan bertemu dengan kalian.
Komentar
Posting Komentar