Tik tok dan Eksistensialisme
02 September 2020
Belakangan ini TikTok menjadi salah satu aplikasi yang ramai digunakan masyarakat. Tanpa mengenal umur, jenis pekerjaan atau strata sosial seseorang, dengan sedemikian rupa diciptakan untuk dapat digunakan dan dikonsumsi oleh semua. Lintas dunia. Inilah salah satu keberhasilan globalisasi. Tentu teman-teman sudah paham globalisasi. Tapi tulisan kali ini bukan bagaimana cara memfilter tentang yang baik atau buruk di TikTok, melainkan membahas sisi lain dari pengguna hingga penikmat TikTok.
Apakah layak jika dalam sehari kita hanya duduk atau terbaring di kasur dengan mata menatap ke layar gawai sambil jempol mengusap-usap ke atas. Atau ketika bertemu dengan teman malah saling diam melihat orang lain yang jelas-jelas tidak kalian kenal. Jika balik ke poin pertama, jelas membuang-buang waktu adalah hasilnya dan pada poin kedua siap-siap dibilang tidak asik di tongkrongan. Kenapa bisa begitu ya?
Coba kita pikirkan saksama, jika TikTok boleh dibilang sebuah khayalan yang tercitpa di dunia material. Di mana khayalan itu sendiri merupakan bentuk dari hasrat kita. Seperti hasrat ingin bernyanyi, berjoget, bersenda gurau atau yang lain. Hasrat di sini bisa baik atau buruk. Tapi itu semua bukan salah kita. Hasrat dan khayalan sudah menjadi lingkungan budaya masyarakat. Dan jika kita bicara hasrat, maka ada hubungannya dengan romantisisme. Romantisisme mengatakan bahwa kita sebagai manusia dapat merasakan emosi yang luas. Maka TikTok hadir dengan orang-orang yang dapat kita terima. Lalu kepuasan emosi menjadi konsumerisme, tak pernah puas mengonsumsi rasa sedih, kebahagiaan, galau, dll. Memenuhi segala potensi di manusia. Mereka bisa jadi antara pembuat atau penikmat TikTok.
Tidak berhenti di situ. Semua fenomena masyarakat ini muncul dari pertanyaan-pertanyaan dasar manusia. Seperti, kita hidup. Tapi merasa tidak layak melakukan apa pun yang membuat kita layak hidup. Kita tidak tahu mengapa kita mulai hidup. Dan kita tidak tahu dari mana dan mengapa ada kehidupan. Lantas bagaimana cara kita menjalani hidup ini supaya jadi sedikit bermakna? Eksistensialisme pun bergabung. Setelah pembahasan sebelumnya mengenai para konsumen TikTok, kali ini terhadap orang-orang yang terjun langsung di dalamnya.
Jadi gini teman-teman jika kita menggunakan pemikiran eksistensial seperti Kierkegaard yang boleh dibilang sebagai pemerkarsa eksistensialisme, mengemukakan bahwa satu-satunya hal yang penting adalah ‘keberadaan’ manusia itu sendiri. Dia mengatakan juga kalau kebenaran itu subjektif. Hanya kebenaran pribadi lah yang benar. Nah dari situ saja kita dapat mengerti kenapa terdapat video TikTok seakan menjadi pembenaran mereka pribadi. Lebih banyak dengan cara yang kurang enak untuk dilihat. Inilah salah satu keresahan saya. Hingga tahap di mana saya lelah ingin menegur. Walaupun banyak teguran lain dari sana-sini tetap saja, bagi mereka kebenaran adalah subjektif. Dengan cara yang kurang bagus.
Lalu dalam tahapan eksistensialisme terdapat estetika. Menurut Kierkegaard, orang yang hidup pada tahap estetika ingin mencoba setiap kesempatan apa pun yang dianggap baik, indah, memuaskan atau menyenangkan. Hidup lebih diatur oleh nafsu dan indrawi. Inilah yang memungkinkan munculnya video-video untuk memuaskan baik itu diri sendiri atau orang lain. karena menurut mereka yang terpenting adalah dirinya mendapat kepuasan. Karena satu-satunya yang dipikirkan orang-orang di tahap estetika adalah apakah sesuatu itu menyenangkan atau membosankan.
Namun kita juga tidak bisa menilai dari satu sisi saja, rupanya orang yang hidup pada tahap estetik sering mengalami kegelisahan, ketakutan dan perasaan hampa. Tinggal bagaimana kitan saja menjalaninya. Kemudian estetika tidak jauh-jauh dari seni. Begitu pula TikTok. Banyak seni di dalamnya. Tapi kita tentu tidak bisa menilai semuanya. Boleh juga kita mengutip dari Tolstoy dalam estetika seninya seperti, keindahan dapat ditangkap tergantung dari kesan yang ditangkap, dan tidak semata-mata adanya hubungan dengan kesenangan kita untuk mendapatakan keindahan itu sendiri.
Maka jika kita berkata bahwa tujuan semua aktivitas seni di TikTok semata-mata menggambarkan kesenangan itu sendiri. Maka definisi tentang seni akan menjadi sulit dimengerti. Namun bayangkan jika video-video di TikTok sudah mencapai tahap etika. Di mana para kreator sudah memiliki kesungguhan dan kemantapan dalam bertindak menyangkut pilihan-pilihan moral. Nah, pendekatan ini bukannya tidak sama dengan etika kewajiban Immanuel Kant, di mana kita hidup sesuai hukum moral. Walaupun Kierkegaard dan Kant sama-sama menaruh perhatian pada tempramen manusia. Yang terpenting bukanlah apa yang teman-teman pikir itu benar atau salah ya, yang penting adalah kita memilih untuk mempunyai pendapat mengenai apa yang benar atau salah.
Eksistensialisme dengan mudahnya tidak menghakimi para pemain TikTok sebagai kaum tertinggal, justru merekalah para eksistensialis sejati yang dapat benar-benar melantangkan kalau inilah nilai-nilai hidupku, inilah arti hidupku tanpa memedulikan omongan orang lain. Karena seseorang tentu dapat memilih untuk bertindak dengan cara lain, dapat memilih untuk menjadi orang baik daripada menjadi orang jahat. Seseorang harus menciptakan diri sendiri dan hidup sesuai dengan diri ini. Lalu apa yang salah dengan TikTok dan para penggunanya? Beberapa kalimat sebelumnya merupakan bentuk dari eksistensi otentik. Dalam bertindak, seseorang harus bertindak sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai “aksi seseorang” semata. Nah, aksi otentik ini juga menuntut kebebasan seseorang dalam hubungannya adalah membiarkan nilai-nilai seseorang saat membuat pilihan. Akhirnya seseorang akan bertanggung jawab dengan kelakuannya sendiri dan menyadari penuh bahwa setiap pilihan-pilihan yang mereka buat memiliki konsekuensinya masing-masing. Namun ada juga para pengguna TikTok yang memiliki prinsip berseberangan dengan ini. Atau kasarnya menyangkal setiap kebebasan dan pilihan orang lain. Dengan keyakinannya bahwa seseorang bertindak seolah-olah keharusan. Biasanya hal ini dilakukan oleh bayang-bayang yang dimiliki orang, terkait dengan aksi yang ia anggap harus dilakukannya. Maka bagi teman-teman yang suka eksis diharapkan memiliki tanggung jawab dengan sadar akan kebebasan setiap individu lainnya. Kita semua, bukan hanya pengguna TikTok bisa saja merupakan eksistensialis di tempat eksis yang berbeda. Tapi jika eksis yang kalian lakukan itu sama dengan semua, apakah akan ada esensinya? Akhir kata, terima kasih.
Komentar
Posting Komentar